Kamis, 26 April 2012

Makalah Teori Belajar Mengajar PAI


TEORI KOGNITIVISTIK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tujuan pengajaran yang dilaksanakan di dalam kelas menurut Mager adalah menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis Out put yang terdapat pada siswa dan teramati serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar.Alifirdauzy.blogspot.com
Proses pembelajaran adalah merupakan suatu sistem. Dengan demikian, pencapaian standar proses pembelajaran dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran. Begitu banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, namun demikian, tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak.

1.2 Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian teori belajar dan manfaat
b.      Apa yang dimaksud teori kognitivistik
c.       Apa tujuan teori belajar kognitivistik
d.       Apa saja prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif
e.       Bagaimana Evaluasi Pembelajaran PAI Menurut KTSP

1.2  Tujuan
a.    Mengetahui pengertian teori belajar dan manfaatnya
b.   Mengetahui apa yang dimaksud teori kognitivistik beserta penerapannya dalam pendidikan
c.    Mengetahui tujuan teori belajar kognitivistik
d.   Mengetahui prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif
e.    Mengetahui Evaluasi Pembelajaran PAI Menurut KTSP



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Belajar

            Teori adalah sekumpulan dalil yang berkaitan secara sistematis yang menetapkan kaitan sebab akibat diantara variable yang saling bergantung. Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Perubahan yang dimaksud harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama. Oleh karena itu sangat dibutuhkan teori-teori belajar. Kebutuhan akan teori adalah hal yang penting, supaya pendidikan dapat maju, berkembang dan memecahkan masalah-masalah yang ditemukan dalam setiap bidang.
            Oleh karena itu tenaga pengajar perlu memahami terlebih dahulu teori belajar, alasannya:
1. Membantu pengajar untuk memahami proses belajar yang terjadi didalam diri si belajar
2. Dengan kondisi ini pengajar dapat mengerti kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi,     memperlancar atau menghambat proses belajar
3. Mungkin pengajar melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan pada suatu aktivitas belajar
4. Teori ini merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang dapat diuji kebenarannya melalui eksperimen atau penelitian, dengan demikian dapat meningkatkan pengertian seseorang tentang proses belajar mengajar
5. Hipotesis, konsep-konsep dan prinsip-prinsip ini dapat membantu si pengajar meningkatkan penampilannya sebagai seorang pengajar yang efektif

Secara umum semua teori belajar dapat kita kelompokkan menjadi empat golongan atau aliran yaitu:
1. Teori Belajar Behavioristik
2. Teori Belajar Kognitivistik
3. Teori Belajar Humanistik
4. Teori Belajar Sibernetik 

2.2 Teori Belajar Kognitivistik
Teori belajar kognitif memandang bahwa belajar bukan semata-mata proses perubahan tingkah laku yang tampak, melainkan sesuatu yang kompleks yang sangat dipengaruhi oleh kondisi mental siswa yang tidak tampak. Oleh karenanya, dalam pembelajaran di kelas seorang guru perlu memperhatikan kondisi siswa yang berhubungan dengan persepsi, perhatian, motivasi, dan lain-lainnya
            Prinsip teori psikologi kognitif adalah bahwa setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa di pengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahaman atas dirinya sendiri. Seseorang memiliki kepercayaan, ide-ide, dan prinsip-prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya sendiri. Menurut teori belajar kognitif, belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
            Menurut teori belajar kognitif, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara klop dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam perkembangan setidaknya ada tiga teori belajar yang bertitik tolak dari teori kognitivistik ini yaitu: Teori perkembangan piaget, teori kognitif Brunner dan Teori bermakna Ausubel.
2.2  Tujuan teori kognitivistik
1. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka sendiri secara spesifik sesuai dengan situasi psikologinya.
2. Membantu guru untuk memahami orang lain, terutama muridnya dan membantu dirinya sendiri.
3. Mengkontruksikan prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
4. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas diri dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya merupakan faktor yang saling berkaitan.

2.3 Prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berpikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah, dan kesadaran.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku siswa yang tampak, seperti penyelesaiak tugas rumah, hasil tes,disamping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologinya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berpikir setiap orang tidak sama dan tidak tetap dari waktu ke waktu.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang teori belajar kognitif, di bawah ini disajikan beberapa prinsip penerapan teori belajar kognitif menurut (Nasution, 1982) yaitu :
1. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Teori belajar kognitif beranggapan bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat. Demikian juga kalimat akan memiliki makna apabila ada dalam suatu rangkaian karangan.
Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukalah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
2. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengem-bangkan pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri anak. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
3. Belajar berkat insight
Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepadaaaa suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah mengahapal fakta. Melalui persoalan yang dihadapi itu akan akan mendapatkan insight yang sangat berguna untuk menghadapi setiap masalah.
4. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus-menerus disempurnakan. Apabila seorang anak kena api, maka kejadian itu akan memberikan pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan menafsirkannya bahwa api merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit, sehingga ia bisa menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari. Akan tetapi kemudian anak akan mereorganisasi pengalamannya bahwa api itu ternyata besar juga manfaatnya dan tidak selalu berbahaya. Inilah hakikat pengalaman. Dengan demikian, proses membelajarkan adalah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak[1].
Proses kognitif disusun berjenjang meliputi: Mengingat, mengerti, memakai, menganalisis, menilai, dan mencipta.Alifirdauzy.blogspot.com
Kawasan kognitif (pemahaman). Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan “berfikir”, mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu, mengingat sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntutkan siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, merode atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat “mengingat sampai ketingkat yang paling tinggi yaitu mencipta”.
Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkatan tersebut adalah:
1.   Mengingat, tujuan instruksional pada level ini menuntut siswa untuk mengingat informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti: fakta, terminologi, rumus, strategi, pemecahan masalah, dan sebagainya.
Contoh : Siswa dapat menyebutkan kembali nama-nama malaikat beserta tugasnya, dan sebagainya.
2.   Mengerti, kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa diharapkan menerjemahkan, menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
Contoh : Siswa dapat menjelaskan cara-cara dan hukum-hukum zakat, atau berkorban, da sebagainya.
3.   Memakai, penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
contoh : Siswa dapat mengerjakan shalat-shalat wajib maupun shalat sunat dan sebagainya.
4.   Menganalisis, analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan, dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesis atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi. Dalam hal ini siswa diharapkan menunjukkan hubungan diantara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengn standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.
Contoh : Siswa dapat menganalisis sejauh mana hasil diskusi mereka tentang kewajiban sebagai seorang muslim.
5.   Menilai, mengharapkan siswa mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan criteria tertentu.
Contoh : Siswa dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan bakatnya dari kegiatan pilihan yang telah disiapkan sekolah.
6.      Mencipta, diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada, sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.
Contoh : Siswa dapat menyiapkan bahan pelajaran yang akan diajarkan[2].

2.4 Evaluasi Pembelajaran PAI Menurut KTSP
Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (Al-Quran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai.
Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:
1) Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;
2) Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain;
3) Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit)
Oleh karena itu menurut penulis dalam KTSP siswa sangat diberikan kesempatan untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut ataupun dengan kata lain siswa itu sebagai pusat pembelajaran.


BAB III
KESIMPULAN

          Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia untuk menjalani kehidupan sosialnya. Maju mundur dan baik buruknya suatu bangsa akan ditentukan oleh keadaan pendidikan yang dijalaninya. Pendidikan Islam telah meerangkul semua prinsip dan tujuan pendidikan dan jika dibandingkan dengan pendidikan pada umumnya, maka beban yang akan dipikul oleh pendidikan Islam amatlah berat. Yang harus disadari adalah lembaga pendidikan islam memiliki potensi yang sangat besar bagi jalannya pembangunan di negeri ini terlepas dari berbagai anggapan tentang pendidikan yang ada saat ini. Harus dingat bahwa pendidikan islam di Indonesia telah banyak melahirkan putra- putri bangsa yang berkualitas.pendidikan agama sangat diperlukan sekali, oleh karena itu upaya untuk memajukan dan mengembangkan menjadi satu hal yang wajib. Mengingat pendidikan agama merupakan jalan menuju pembentukan pribadi yang iman dan bertakwa serta berkualitas ilmu pengetahuan.
            Dengan mempelajari evaluasi penerapan Kognitivistik diatas diharapkan memberikan pemahaman kepada pendidik maupun peserta didik agar dapat saling berkolaborasi secara baik agar dapat menghasilkan Out put yang optimal dan dapat mengapresiasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan berguna bagi masyarakat.





Semoga Bermanfaat...
jangan lupa komentarnya di Alifirdauzy.blogspot.com











[2] Drs. H. Martinis Yamin, M. Pd. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar