Selasa, 27 Desember 2011

UAS JURNALISTIK_Pembimbing (Bpk. Khoirul Anwar)


NAMA             : ALIF RODHIANA
NIM                 : 08110071
MAKUL          : PENDIDIKAN JURNALISTIK
KELAS          : D

SEJARAH JURNALISME

Jurnalisme memiliki sejarah yang sangat panjang. Dalam situs ensiklopedia, www.questia.com tertulis, jurnalisme yang pertama kali tercatat adalah di masa kekaisaran Romawi kuno, ketika informasi harian dikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negara dan berita lokal. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengembangkan berbagai metode untuk memublikasikan berita atau informasi.
Pada awalnya, publikasi informasi itu hanya diciptakan untuk kalangan terbatas, terutama para pejabat pemerintah. Baru pada sekira abad 17-18 surat kabar dan majalah untuk publik diterbitkan untuk pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris, dan Amerika Serikat. Surat kabar untuk umum ini sering mendapat tentangan dan sensor dari penguasa setempat. Iklim yang lebih baik untuk penerbitan surat kabar generasi pertama ini baru muncul pada pertengahan abad 18, ketika beberapa negara, semisal Swedia dan AS, mengesahkan undang-undang kebebasan pers.
Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).
“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. 
Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. 
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.  
Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.  
Perkembangan selanjutnya pada Diurnarii tidak terbatas kepada para budak saja, tetapi juga orang bebas yang ingin menjual catatan harian kepada siapa saja yang memerlukannya. Beritanya pun bukan saja kegiatan senat, tetapi juga hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan menarik khalayak. Akibatnya terjadilah persaingan di antara Diurnarii untuk mencari berita dengan menelusuri kota Roma, bahkan sampai keluar kota itu.
Persaingan itu kemudian menimbulkan korban pertama dalam sejarah jurnalistik. Seorang Diurnarii bernama Julius Rusticus dihukum gantung atas tuduhan menyiarkan berita yang belum boleh disiarkan (masih rahasia). Pada kasus itu terlihat bahwa kegiatan jurnalistik di zaman Romawi Kuno hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informasi saja.
Tetapi kegiatan jurnalistik tidak terus berkembang sejak zaman Romawi itu, karena setelah Kerajaan Romawi runtuh, kegiatan jurnalistik sempat mengalami kevakuman, terutama ketka Eropa masih dalam masa kegelapan (dark ages). Pada masa itu jurnalistik menghilang.
Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”,  “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

1.     Masa Perkembangan Jurnalisme
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.  
Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya "Kabar dari Istana". Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.  
Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di  suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.  
Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama “Gazetta” lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak. 
Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.  
Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun 1690 M dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk yang modern, Publick Occurences Both Foreign and Domestick, di Boston yang dimotori oleh Benjamin Harris.
Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan. Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita (sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental, yang bukan berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad ke-17 itu, terutama di Prancis. 
Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A Defence of Unlicenced Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan masyarakat (to influence).  
Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 – 1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun   1912 M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 -  1911).

2.     Perkembangan Jurnalisme Pada Abad 18
Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan.
Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18  dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang. 
Perceraian  antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih  berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru. 
Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah.  Kantor berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis). 
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. 
Ciri khas “jurnalisme kuning” adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan! Namun, jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi. 
Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial. 
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.




3.     Sejarah Jurnalisme di Indonesia
Tokoh pers nasional, Soebagijo Notodidjojo dalam bukunya PWI di Arena Masa (1988) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Prijaji yang sejak tahun 1910 berkembang jadi harian sebagai pemrakarsa pers nasional. Artinya dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Haryadi Suadi menyebutkan , salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan Koran Jepang seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang).
Menurut Haryadi, kondisi pers Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta).

4.     Jurnalistik Indonesia Sebelum Merdeka
Di Indonesia pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada tahun 1744, ketika sebuah surat kabar bernama “Bataviasche Nouvelles” diterbitkan dengan perusahaan orang-orang Belanda. Surat kabar yang pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai tahun 1854 ketika majalah “Bianglala” diterbitkan, disusul oleh “Bromartani” pada tahun 1885, kedua-duanya di Weltevreden, pada tahun 1856 “Soerat Kabar Bahasa Melajoe” di Surabaya. Sejak itu bermunculanlah berbagai surat kabar dengan pemberitaan bersifat informatif, sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman penjajahan itu.
            Sejarah pers pada abad 20 ditandai dengan munculnya koran pertama milik Bangsa Indonesia. Modal dari bangsa Indonesia dan untuk bangsa Indonesia, yakni “Medan Prijaji” yang terbit di Bandung. Medan Prijaji yang dimiliki dan dikelola oleh Tirto Hadisuryo alias Raden Mas Djokomono ini pada mulanya, yakni tahun 1907 berbentuk mingguan, kemudian pada tahun 1910 diubah menjadi harian.
Tirto Hadisuryo ini dianggap sebagi pelopor yang meletakkan dasar jurnalistik modern di Indonesia, baik dalam cara pemberitaan, pemuatan karangan, iklan dan lain-lain. Setelah Boedi Oetomo lahir yang diikuti oleh gerakan-gerakan lainnya, baik yang berasaskan kebangsaan maupun yang berdasarkan keagamaan, jumlah surat kabar yang dikelola Indonesia semakin bertambah karena organisasi-organisasi tersebut menyadari bahwa untuk menyebarluaskan misinya diperlukan media massa, yang pada waktu itu hanya surat kabar-lah yang dapat dipergunakan.
Ditinjau dari sudut jurnalistik salah seorang tokoh bernama Dr. Abdoel Rivai dianggap sebagai wartawan yang paling terkenal karena tulisannya yang tajam dan pedas terhadap kolonialisme Belanda. Oleh Adinegoro, Dr. Rivai diberi julukan “Bapak Jurnalistik Indonesia” dan diakui oleh semua wartawan pada waktu itu sebagai kolumnis Indonesia yang pertama.
5.     Jurnalistik Indonesia Pasca Kemerdekaan
Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesia diwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. Haryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejak kemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapa koran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengkritik pihaknya.
Pada tanggal 1 Oktober 1945 terbit Harian Merdeka sebagi hasil usaha kaum Buruh De Unie yang berhasil menguasai percetakan. Pada saat revolusi fisik itu jurnalistik Indonesia mempunyai fungsi yang khas. Hasil karya wartawan bukan lagi bermanfaat bagi konsumsi pembaca di daerah pedalaman, tetapi juga berguna bagi prajurit-prajurit dan laskar-laskar yang berjuang di Front. Berita yang dibuat para wartawan bukan saja mengobarkan semangat berjuang membela kemerdekaan, tetapi sekaligus sebagai alat pemukul terhadap hasutan-hasutan pihak Belanda yang disiarkan melalui berbagai media massanya.
Pada tanggal 1 Januari 1950 berlakulah UUD RIS, tetapi pada tanggal 15 Agustus 1950 RIS dibubarkan, dan Indonesia menjadi Republik Kesatuan dengan UUDS. Pada waktu itu yakni waktu pengakuan kedaulatan sampai tahun 1959 yaitu munculnya doktrin demokrasi terpimpin yang kemudian disusul dengan ajaran Manipol Usdek, kebebasan pers banyak digunakan untuk saling mencaci-maki dan memfitnah lawan politik dengan tujuan agar lawan politiknya itu jatuh namanya dalam pandangan khalayak.
Antara tahun 1955 sampai 1958 dengan UU No. 23 tahun 1954 banyak surat kabar yang dibredel, banyak pula wartawan yang ditangkap dan ditahan. Tanggal 1 Oktober 1958 dapat dikatakan sebagai tanggal matinya kebebasan pers Indonesia. Sesudah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, pihak penguasa berturut-turut mengeluarkan peraturan untuk lebih mengetatkan kebebasan terhadap pers. Persyaratan untuk mendapatkan SIT diperkeras. Baru beberapa bulan peraturan itu berjalan, kemudahan lahir peraturan baru yang lebih mempersempit ruang gerak para wartawan yang hendak mengeluarkan pendapatnya dan pikirannya.
Departemen Penerangan mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa surat kabar atau majalah harus didukung oleh suatu partai politik atau tiga organisasi massa. Surat kabar di daerah yang semula masih dibenarkan memakai nama berbeda dengan organ resmi dari induk tempat ia berafiliasi di Pusat harus mengubah namanya sehingga sama dengan organnya di Jakarta. Akibat peraturan itu dapat dibayangkan bagaimana corak jurnalistik Indonesia pada waktu itu, ruang para wartawan dipersempit, keterampilan dikekang, daya pikir ditekan. Tahun 1966 bagi sejarah pers Indonesia merupakan tahun penting karena pada tahun itulah dikeluarkannya UU No. 11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers.
Ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas, sejarah perkembangan pers dan jurnalistik Indonesia sejak saat itu menggembirakan dan membanggakan kita. Pada tahun 1988 tercatat ada 263 penerbitan pers, pada tahun 1992 jumlah tersebut meningkat menjadi 277 penerbitan pers.
6.     Jurnalistik Indonesia  Zaman  Orde Baru
Selama dua dasawarsa pertama Orde Baru, 1965–1985, kebebasan jurnalistik di Indonesia, memang bisa disebut lebih banyak bersinggungan dengan dimensi, unsur, nilai, dan roh ekonomi daripada dimensi politik. Sebagai sarana ekonomi, pers dapat hidup dengan subur tetapi sebagai wahana ekspresi, penyalur pendapat umum, pengemban fungsi kontrol sosial, pers Indonesia dihadapkan pada berbagai pembatasan dan tekanan dari pihak penguasa pusat dan daerah. Orde Baru sangat menyanjung ekonomi namun membenci politik. Sepanjang 1980, fungsi pers masih mengalami penciutan, bersamaan dengan pengetatan pengendalian oleh pemerintah terhadap kegiatan politik dalam masyarakat. Fungsi utama pers sebagai komunikator informasi telah mengalami kemunduran sehingga yang lebih menonjol adalah fungsinya yang lain sebagai sarana hiburan. Pers mengalami kepincangan terutama dalam bidang pendidikan politik.
Kebebasan jurnalistik, kebebasan pers, dalam dua dari tiga dasawarsa kekuasaan monolitik Orde Baru, hanya lebih banyak memunculkan kisah sedih daripada kisah sukses yang sejalan dengan amanat para pendiri bangsa seperti dinyatakan dengan tegas dalam Pasal 28 UUD 1945. Disebut sebagai era pers tiarap Orde Baru. Hanya dengan tiarap, dengan mengendap-endap pers kita diharapkan bisa tetap bertahan hidup. Strategi inilah yang dipilih sebagian pers nasional untuk meloloskan diri dari jebakan-jebakan kematian. Orde Baru pun akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998, lahirlah kemudian apa yang disebut Orde Reformasi.
7.     Jurnalistik Indonesia  Zaman  Reformasi
            Kebebasan jurnalistik berubah secara drastis menjadi kemerdekaan jurnalistik. Terjadi euforia di mana-mana kala itu.
            Secara yuridis, UU Pokok Pers No 21/1982 pun diganti dengan UU Pokok Pers No 40/1999. Dengan undang-undang baru dan pemerintahan baru, siapa pun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Siapa pun bisa menjadi wartawan dan masuk organisasi pers mana pun. Hal ini ditegaskan pada Pasal 9 ayat (1) UU Pokok Pers No 40/1999, setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. Ditegaskan lagi pada ayat (2), setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.
Kewenangan pers nasional itu sendiri sangat besar. Menurut Pasal 6 Pokok Pers No. 40/1999, pers nasional melaksanakan peranan: (1) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, (2) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan,
(3) mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, (4) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhdap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (5) memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
            Dalam era reformasi, kemerdekaan pers benar-benar dijamin dan diperjuangkan. Semua komponen bangsa memiliki komitmen yang sama: pers harus hidup dan merdeka. Hidup, menurut kaidah manajemen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Merdeka, menurut kasidah demokrasi, hak asasi manusia, dan tentu saja supremasi hukum.
8.     Jurnalistik Indonesia Hari Ini
Setelah mengalami era kebebasan dan kemerdekaan selama sepuluh tahun, pers kembali dihadapkan kepada sesuatu yang dilematis. Di satu sisi, runtuhnya kekuasaan represif Orde Baru membuat dunia pers menikmati masa gemilang dengan kebebaan yang seolah tak terbatas. Namun, di sisi lain, liberalisasi pada akhirnya mengundang kekhawatiran publik.
Apakah pers harus mempertahankan atau mengerem kebebasan yang dimiliki. Dampak-dampak negatif akan bermunculkan dari kebebasan dan industrialisasi pers.
          Hal itu terjadi dengan adanya beberapa pers yang tidak menggunakan etika pers atau kode etik jurnalistik dalam melaksanakan kegiatan jurnalisme. Tidak adanya pembatasan yang ketat akan semakin membuat dunia pers terbawa arus liberalisasi. Contoh halnya pada media elektronik seperti televisi. Begitu banyak tayangan-tayangan yang memperlihatkan nilai yang jauh dari kewajaran. Seakan-akan kebebasan pers ini memberikan ruang gerak yang besar untuk bisa mengekspresikan segala hal, baik itu yang positif, terlebih yang negatif.
9.     Teknologi Berpengaruh Besar Terhadap Sejarah Jurnalisme
Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembangan teknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasi jurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisa ditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto di surat kabar.
Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu.
Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi.
Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjang mungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa.
Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun.
Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudah merambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidak hanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang mereka jalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang tak kalah luasnya.
Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntut untuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pasti memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.
Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja.
Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D. Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.
Dalam penggunaan teknologi, Indonesia mungkin agak terlambat dibanding dengan media massa dari negara maju seperti Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris. Tetapi untuk saat ini penggunaan teknologi di Indonesia –terutama untuk media televisi– sudah sangat maju. Lihat saja bagaimana Metro TV melakukan laporan live dari Banda Aceh, selang sehari setelah bencana gelombang tsunami melanda wilayah itu. Padahal saat itu aliran listrik dan telepon belum tersambung
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia. Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media komunikasi.
Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia (TVRI) muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Di masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembredelan (pemberangusan) media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh nyata dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan (Deppen) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI, pada 1998. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi kewartawanan. Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.



INTINYA, , ,
Saat ini kegiatan jurnalistik di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya telah mengalami kemajuan pesat dalam produksi dan penyampaiannya. Dengan pers sebuah negara dapat runtuh dan hancur atau sebaliknya, bangkit, berkembang, dan maju.
Tak bisa disangkal bahwa perubahan zaman ternyata berjalan beriringan dengan perkembangan dunia jurnalisme, pun dengan perkembangan teknologi dan informasi. Jurnalisme yang pada awalnya hanya sekadar menyampaikan informasi saja, setelah melalui perjalanan panjang akhirnya berevolusi menjadi sebuah kekuatan yang dapat mempengaruhi khalayak banyak.
Dilihat dari sejarah pers di Indonesia, pers telah digunakan oleh berbagai elemen mulai dari pemerintah hingga masyarakat itu sendiri, bahkan pemerintah menggunakan pers sebagai social control, begitu juga sebaliknya masyarakat dapat mengawasi kinerja pemerintah melalui media massa, kedua belah pihak yang dapat saling mengawasi satu sama lain.
          Namun akan ada suatu waktu di mana pers kemudian dimonopoli. Hal tersebut dapat dilihat dari makin banyaknya media-media massa yang menggabungkan diri dibawah satu korporasi. Memang tidak ada yang salah dari penggabungan tersebut, namun yang perlu dicermati adalah bahwasanya media massa yang sejatinya memberikan suatu kebenaran kepada khalayak, nantinya setelah berada dalam suatu monopoli maka pers tersebut pun tidak selamanya akan berpihak pada kebenaran tersebut melainkan lebih condong menguntungkan kekuatan korporasi di mana pers tersebut bernaung.
Sekarang ini kita tidak dapat menampik juga bahwa media massa sekarang ini terkadang dapat dikatakan “kebablasan”. Fungsi-fungsi media massa yang disebutkan di atas kerap tidak relevan dengan realitas media massa sekarang. Meski begitu, dapat dikatakan tidak semua media massa yang banyak melakukan penyimpangan atau deviasi dan menyebabkan kemerosotan moral. Jika kita telisik lebih dalam, ada tipologi pers atau media massa yang terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu pers berkualitas, pers populer, dan pers kuning.
Hal yang masih menjadi pertanyaan yaitu apakah media massa merupakan faktor penyebab kemerosotan moral, penyebab ketimpangan sosial dan bahkan sumber criminal? Karena dasarnya memiliki fungsi yang mulia dalam memajukan bangsa ini dan menggerus deviasi-deviasi yang terjadi dalam pemerintah. Meskipun tak dipungkiri ada segelintir media yang dapat dikatakan faktor penyebabnya. Hal ini dapat disebabkan dampak globalisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi segelintir media sehingga berbuat sedemikian rupa.
Terlepas dari hal diatas, media cetak saat ini telah merambah ke arah dunia on-line dalam setiap peliputan beritanya. Setiap menit berita terbaru dapat pembaca akses melalui situs-situs media cetak tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin setiap wartawan menemukan berita terbaru mengenai suatu kejadian, dapat langsung dimuat di halaman website media cetak tersebut, karena sudah tidak ada batasannya lagi dalam menyebarluaskan berita dan tidak perlu menunggu waktu deadline untuk mengangkat berita terbaru.
Perkembangan dunia jurnalistik saat ini dapat dikatakan sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Contoh nyata dari perkembangan tersebut adalah setiap orang dapat menjadi wartawan. Dengan media internet Webblogger atau yang lebih populer disebut blogger atau blog seseorang dapat menyebarluaskan informasinya. Walaupun dalam kejurnalistikan bahasa atau penyampaian informasinya masih dipertanyakan, banyak kalangan baik itu pemerhati, atau kalangan ahli sangat apresiasi dengan blogger pribadi tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin media-media cetak atau pun elektronik dapat memperoleh informasi dari blogger pribadi tersebut.
Nilai positif yang dapat diambil dari kemunculan webblogger tersebut adalah sisi kreativitas dalam menuangkan tulisan atau informasi apapun dapat muncul dan terlihat dalam blog tersebut, sehingga memudahkan pembaca lain untuk mencari informasi-informasi tertentu.
Citizen Journalism misalnya yang saat ini memang tengah hangat diperbincangkan oleh banyak pihak. Ada yang pro maupun kontra terhadap istilah tersebut. Ada yang menyatakan terbantu dengan jurnalisme warga tersebut. Namun, ada juga yang menyangsikan kredibilitas pesan atau informasi yang disampaikan. Apakah berita tersebut dapat dipertangungjawabkan atau tidak. Meskipun begitu, fenomena ini dapat menjadi baik jika kita memandangnya dengan baik pula. Yang terpenting adalah dengan kehadirannya media on-line ini kita sebagai masayarakat yang haus akan informasi semakin dimanjakan dengan informasi-informasi berita up to date yang disuguhkan.
Kemungkinan terburuk dalam kemunculan teknologi yang begitu pesat dalam penyebaran berita adalah hilangnya media cetak. Namun, kita juga mengharapkan kehadiran internet tidak membuat media cetak, dalam hal ini surat kabar tidak mati. Karena awal mula adanya jurnalistik di Indonesia adalah hadirnya surat kabar. Sebagai pionir jurnalistik Indonesia, tentunya media cetak pantang untuk pudar. Kesuksesan bertahan saat ini seharusnya dijadikan kekuatan dan motivasi agar senantiasa bertahan di dalam era kompetisi seperti saat ini.   


Sumber: Aoki Setiawan, Sejarah Jurnalisme dan http://fibri.wordpress.com/2007/11/06/sekilas-sejarah-jurnalisme/ (27 Desember 2011, 14:16)

Senin, 26 Desember 2011

Cara Memutihkan Kulit Secara Alami


Kulit wajah adalah hal paling merepotkan bagi tiap wanita. Di antara bahan-bahan aktif yang sekarang mulai dipakai baik di kedokteran maupun di salon kecantikan untuk memutihkan kulit adalah dengan cara pengelupasan sel-sel mati seperti produk dengan bahan-bahan aktif. Kulit yang halus kini sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Karena itu, banyak produk perawatan kulit ditawarkan. Tak hanya memutihkan kulit atau menjaga kelembabannya saja, tapi juga untuk menjaga agar kulit tetap semulus bayi.

 


Berikut ada beberapa bahan-bahan untuk membantu Anda memutihkan kulit secara alami agar senantiasa terlihat indah di pandang mata, tidak hanya menghaluskan tetapi juga menyehatkan.
1. Jeruk Nipis
Air yang berasal dari daging buah ini dikenal sanggup membuat pori-pori mengecil dan menghilangkan kelebihan lemak pada jenis kulit berminyak.
Manfaat :
Untuk merapatkan pori-pori kulit. Ambil daging jeruk nipis, oleskan pada kulit wajah. Biasanya di sekitar hidung dan pipi yang pori-porinya terlihat besar. Untuk memutihkan dan menghaluskan kulit. Usapkan potongan jeruk nipis pada wajah dan kulit bagian tubuh lainnya.
2. Alpukat
Alpukat banyak mengandung vitamin A, C, dan E, zat besi, potasium, niasin, asam pantotenik serta protein yang tidak biasanya terdapat dalam buah. Semua zat ini berguna bagi keindahan dan kesehatan kulit.
Manfaat :
Sebagai pelembab. Ambil bagian dalam kulit alpukat, yang mengandung humektan, dan mampu menahan kelembaban kulit. Gosokkan secara lembut ke seputar wajah dan biarkan selama 15 menit. Setelah itu basuhlah wajah menggunakan air dingin. Lakukan malam hari sebelum Anda tidur karena malam hari adalah waktu yang tepat bagi kulit untuk bekerja. Wajah yang terjaga kelembabannya membuat make- up bertahan lama sesudahnya.

Selamat mencoba,,,,,,,
(www.isdaryanto.com)

Sabtu, 24 Desember 2011

Cara Menghilangkan Grogi


Khafid.com akan membagi resep kepada bloger semua bagaimana cara menghilangkan rasa grogi pada diri kita. Sebelum khafid.com memaparkan tips-tipsnya, kita harus tahu apa itu grogi? grogi adalah rasa dari dalam diri kita yang timbul yang disebabkan karena beberapa hal, contohnya kita tidak percaya diri akan kemampuan kita, persiapan akan sesuatu kurang, dan masih banyak lagi.
tips-tips dibawah ini semoga bermanfaat bagi kalian semua, bagaimana kita mensiasati diri kita supaya PD (percaya diri di depan umum). Cara menghilangkan rasa grogi:

CARA MENGHILANGKAN RASA GROGI
CARA MENGHILANGKAN RASA GROGI

1. Siapkan mental dan fisik, Mental harus siap dalam arti kita harus mengerti dengan siapa kita berhadapan dan dengan siapa kita berbicara. Fisik kita tidak boleh lemah, karena dengan fisik yang terkendali akan membantu pernafasan kita dan ketangguhan dalam berfikir dan bersikap.
2. Minum air putih yang cukup sebelum berpidato, karena air putih manetralkan keadaan tubuh kita.
3. Pegang sesuatu di tangan waktu berpidato, pensil, kertas dan lain-lain. supaya mencegah gemetar pada tangan kita.
4. Tatapannya harus padat (tidak kosong) tujukan tatapan pada satu titik, boleh berubah-ubah asal vokus.
5. Yakin anda mampu, pikirkan bahwa yang anda hadapi itu orang yang biasa-biasa saja (waaupun presiden dan lain-lain tetapi masih menghargainya).
6. Berdoa agar diberi kesuksesan.
Itulah beberapa cara menghilangkan rasa grogi dari khafid.com, semoga bermanfaat bagi bloger, bila anda kurang setuju kami menerima saran dan keritik dari teman-teman semua, Terima kasih.
Thanks: Khafid.com

Cara Merawat Gigi


Cara Merawat Gigi


Cara Merawat Gigi-Gigi adalah salah satu bagian terpenting manusia, bayangkan seandainya kita tidak memiliki gigi, apa yang kita bisa lakukan saat makan?Cara Merawat Gigi-mungkin kita akan membayangkan nenek-nenek atau kakek-kakek yang sedang makan, :). Tips Merawat Gigi-Jadi gigi adalah alat yang sangat penting bagi kita, jadi kita wajib menjaganya agar tetap sehat, bersih dan segar. Setampan-tampannya seseorang seandainya dia tidak memiliki gigi yang bagus maka terlihat kurang sempurna. Cara Merawat Gigi-Dan begitu juga seorang wanita, Tubuh langsing, rambut lurus panjang bagus dan wajah putih bersih namun ketika dia senyum akan tetapi giginya kuning penuh dengan kotoran atau bauh mulutnya tidak enak maka kita juga tidak nyaman saat ada di dekatnya.
Gigi yang sehat adalah gigi yang tanpa lubang, kenapa bisa begitu? karena lubang gigi adalah bakteri yang bekerja dan berusaha merusak gigi kita, bau mulut ujungnya, itu salah satu penyebabnya adalah lubang di gigi, jadi buat temen-temen semua yang sudah terlanjur giginya lubang, maka dari sekarang wajib dan rutin menyikat giginya minimal 2 kali dalam sehari, setelah makan dan waktu akan tidur. ya pastinya dengan pasta gigi dong, dan jangan lupa untuk mengganti sikat gigi setiap 2 bulan sekali dan menyikat lidah anda supaya menghindari bau mulut.
Tips Merawat Gigi
Tips Merawat Gigi
Gigi rusak merupakan “Focal Infeksi”, artinya infeksi pada gigi tapi menyebabkan sakit pada bagian tubuh yang lain, misalnya gigi rusak, tapi sakit sebagai akibat dirasakan di tempat lain misalnya encok pada persendian. Perlu diterangkan juga sebagai sumber infeksi, tidak usah gigi itu rusak atau berlubang. Gigi yang kelihatan sehat tidak berlubang, tapi setelah diselidiki di bawah giginya ada  kantung di gusi, dapat menyebabkan sumber infeksi juga.Pastikan anda tidak melupakan siklus setengah tahunan pergi ke dokter gigi, karena masyarakat kebanyakan menyepelekan unruk pergi ke dokter gigi. Gigi adalah mutiara yang harus dijaga supaya tetap sehat. simak tips dibawa ini:
1. Menyikat gigi minimal 2 kali sehari (teratur)
2. Sikat juga lidah anda untuk menghilangkan bakteri yang menempel dari sisa-sisa makan yang nda makan.
3. Pilih sikat gigi yang sesuai artinya sikatnya jangan terlalu kasar dan besar karena nantinya akan melukai gusi anda.
4. Jangan lupakan pastanya juga yah, pilih pasta yang bercantumkan Fluoride guna mencegah gigi berlubang.
5.  Gerakan sikat gigi-Vertikal dari arah gusi ke ujung gigi. Untuk rahang atas dari atas ke bawah. Untuk rahang bawah ke atas. Bagian luar, dalam dan permukaan gigi yang untuk mengunyah disikat dengan teliti, tidak diperlukan tenaga yang terlalu keras.
6. Gunakan obat kumur gigi- gunakan setelah menyikat gigi anda.
7. Permenkaret tanpa kandungan gula-guna untuk meningkatkan aliran air liur yang dapat membersihkan partikel makanan dan asam penyebab kerusakan gigi.
8. Hindari makanan yang banyak mengandung gula contonya permen yang manis-kue kue yang manis dan biasakan makan makanan yang sehat dan segar seperti buah-buahan yang segar sayur-sayuran yang masih segar.
Selamat mencoba Tips diatas, somoga bermanfaat. Terimaksih telah singgah sebentar ke blog saya, saya tunggu komennya yah, trims.

Minggu, 11 Desember 2011

Menjadi Astronot Bukan Berarti Harus Jadi Astronom

Istilah astronot dan astronom lahir dari suku kata yang hampir sama. Padahal secara definisi, tugas dan fungsi, keduanya jelas berbeda. Meski mirip, tampaknya astronot lebih populer dibandingkan astronom atau pakar ilmu astronomi.
Astronot (Foto: Ist)

Menjadi astronot bisa dipastikan masuk ke dalam daftar cita-cita paling favorit bagi anak-anak yang duduk di bangku SD. Buktinya, nama Neil Armstrong hingga kini masih diingat sebagai orang pertama yang menginjakan kakinya ke bulan, meskipun banyak juga anak-anak bahkan orang dewasa yang meragukan kebenarannya.

Terlepas dari kontroversi itu, ada fakta yang tidak bisa dibantah bahwa peran astronot sebenarnya tidak lepas dari analisa ilmiah yang disajikan para astronom. Astronomlah yang mempelajari bulan, mengukur situasi dan kondisinya, hingga disimpulkan bahwa bulan bisa diinjak manusia seperti Neil Armstrong.

Bukti bahwa astronomi kurang populer di masyarakat misalnya adanya kesalahpahaman bahwa mempelajari astronomi adalah untuk menjadi astronot.

Bagi para astronom, sangkaan itu mungkin hanya ditanggapi sebagai anekdot atau dengan senyum geli. Tetapi bagi awam, bisa saja dipercayai mengingat istilah astronot dan astronom terbentuk dari kosa kata yang hampir sama.

Sering dicampuradukannya makna astronot dan astronom bisa jadi karena rendahnya minat mempelajari ilmu astronomi. Maka untuk makin mengenalkan ilmu astronomi, sejak 1999 Bosscha membuka kunjungan bagi masyarakat umum.

Buktinya, jumlah pengunjung Bosscha per tahunnya mencapai 60 ribu lebih atau mencapai 600 orang per hari.

Salah seorang pengunjung Bosscha, Zaenal Arifin, guru pengajar mata pelajaran fisika dari sebuah SMA di Tangerang, mengatakan terbukanya Bosscha bagi masyarakat umum diharapkan bisa mendorong minat pelajar untuk mempelajari astronomi.

Zaenal menuturkan, para murid sebenarnya memiliki antusiasme tinggi jika diajak ke observatorium yang didirikan ilmuwan Belanda itu. Hanya saja antusiasme itu belum tentu membuat para murid tertarik mendalami astronomi atau bahkan bercita-cita menjadi astronom.

“Mempelajari antariksa kan tidak mudah. Dasarnya jelas harus pandai matematika, dan kita tahu mata pelajaran berhitung relatif jarang diminati murid,” kata Zaenal, di sela kesibukannya membimbing anak didiknya 
kunjungan ke Bosscha.

Selain itu, peran guru juga sangat penting dalam mengarahkan minat muridnya. Misalnya bisa menyampaikan pelajaran matematika atau fisika secara menarik dan tak membosankan. Sebab, cita-cita murid tergantung dari pengarahan dan petunjuk sang guru. “Termasuk supaya murid termotivasi untuk jadi astronom,” tambahnya.

Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) Evan I Akbar menjelaskan, secara sederhana astronomi adalah ilmu yang mempelajari luar angkasa seperti bulan, tata surya, galaksi, bintang-bintang, dan benda antariksa lainnya yang berada lebih jauh dari atmosfer bumi. Astronomi juga menjelaskan kapan dan bagaimana alam semesta ini terbentuk.

“Salah satu tugas astronom yang paling mudah dimengerti adalah menghitung kapan meteor jatuh ke bumi,” terang Evan.

Evan, yang juga sebagai Koordinator Kunjungan di Bosscha, menuturkan memang ada juga pengunjung yang tidak paham dengan definisi sederhana astronomi.

Tidak heran jika astronomi sering dikaitkan dengan misi antariksa seperti yang dilakukan astronot. Bahkan astronomi juga dikaitkan dengan aktivitas perakiraan cuaca seperti yang dilakukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).

Padahal, meski BMKG dan astronomi sama-sama meneliti objek di luar bumi, namun jangkauan astronomi lebih jauh lagi yakni meneliti objek yang di luar atmosfer bumi. Sedangkan BMKG hanya meneliti objek yang berada di dalam atmosfer bumi.

Begitu juga dengan peran dan tugas astronot yang sebenarnya adalah orang yang mengemban misi di benda angkasa. Bisa dipastikan bahwa astronot dalam misinya itu mendapat petunjuk dari astronot. Yang menjadi astronot biasanya orang-orang dari kalangan militer, bukan warga sipil.

“Dan nggak pernah astronomnya sendiri yang berangkat. Kalaupun ada warga sipil yang pergi, tujuannya hanya wisata,” katanya.
 
Kenapa astronot diambil dari kalangan militer? Sebab, tugas di luar angkasa sangat membutuhkan kekuatan fisik. Tugas itu hanya bisa dipenuhi oleh militer yang memang terlatih secara fisik.

Contoh sederhananya, kekuatan fisik sangat diperlukan ketika perjalanan udara menggunakan pesawat roket. Dengan kecepatan tinggi itu, seorang astronot akan menerima bobot berat badannya sebanyak 10 kali grafity. Artinya, berat badan yang didapat saat terbang akan bertambah 10 kali lipat dari berat badan normal. Warga sipil tidak mungkin bisa menerima beban sebesar itu, ini berbeda dengan militer yang memang sudah dilatih untuk menerima beban sebesar itu.

Di luar angkasa, para astronot harus menjalankan misi sesuai dengan kepentingan astronomi. Misalnya mereka bertugas mengambil bebatuan di bulan, namun mereka tidak bisa meneliti bebatuan itu.

Penelitian akan diserahkan kepada para astronom yang berada di bumi. Jadi astronot hanya tahu misi itu buat apa, bukan meneliti temuan dari misi. Astronomlah yang nantinya akan meneliti temuan astronot. “Neil Armstrong ga tahu batu di bulan itu buat apa. Si batu ini diteliti oleh astronom,” tandas Evan.

Jadi, sambung mahasiswa S2 Astronomi ITB itu, kuliah di jurusan astronomi bukanlah untuk menjadi astronot, melainkan astronom yang tetap bertugas di bumi tetapi harus memanfaatkan teropong unguk mempelajari benda-benda langit. “Memang banyak yang berpikir ingin jadi astronot masuk astronomi, salah itu. Seharusnya dia masuk militer,” tuturnya. Sumber: http://news.okezone.com