LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN
Pendidikan
sebagai usaha sadar yang sistematik-sistematik selalu bertolak dari sejumlah
landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas
tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap
pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu.
Beberapa diantara landasan
pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan
psikologis, dan landasan politik yang sangat memegang peranan penting dalam
menentukan tujuan pendidikan.
- Landasan Filosofis
Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat
filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philoshopi) bersumber dari bahasa
Yunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif,
atau bijaksana. Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan
makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok
seperti : Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang
seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya. Filsafat menelaah sesuatu menjadi
radikal, menyeluruh, dan konseptual yang menghasilkan konsesi-konsepsi mengenai
kehidupan dan dunia. Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan manusia dan
dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor, yaitu :
- Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan
- Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran. Filsafat berada diantara keduanya : kawasannya seluas dengan religi, namun lebih dekat dengan ilmu pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dank arena mengandalkan akal manusia (Redja Mudyahardjo, et.al.,1992: 126-134).
Istilah filsafat
dalam dua pendekatan yakni :
- filsafat sebagai satu kelanjutan dari berpikir ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna kepada ilmu pengetahuannya itu.
- Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika, epistemologi (tentang benar dan salah , etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan jelek), metafisika (tentang hakikat yang “ada “, termasuk akal itu sendiri), serta social dan politik (filsafat pemerintahan).
B.
Landasan sosiologis
Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu
yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, yakni hewan. Hidup berkelompok
memiliki ciri-ciri (Wayan Ardhana, 1968: Modul 1/62) sebagai berikut:
a)
Ada pembagian kerja yang tetap pada
anggotanya.
b)
Ada ketergantungan antara anggota.
c)
Ada kerjasama antar anggota.
d)
Ada komunikasi antara anggota, dan
e)
Ada diskriminasi antarindividu yang hidup
dalam suatu kelompok dengan individu yang hidup dalam kelompok lain.
Ciri- ciri hewan tersebut dapat pula di
temukan pada manusia. Kehidupan social manusia tersebut dipelajari oleh
filsafat, yang berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Sosiologi
sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat.
Pengertian tentang landasan
Sosiologis
Sosiologi pendidikan merupakan
analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam
sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan
meliputi empat bidang:
1.
Hubungan sistem pendidikan dengan
aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
§
Fungsi pendidikan dalam
kebudayaan.
§
Hubungan sistem pendidikan
dan proses control sosial dan sistem kekuasaan.
§
Fungsi sistem pendidikan
dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan.
§
Hubungan pendidikan dengan
kelas sosial atau sistem status.
§
Fungsionalisasi sistem
pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2.
Hubungan kemanusiaan di sekolah
yang meliputi:
§
Sifat kebudayaan sekolah
khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah.
§
Pola interaksi sosial atau
struktur masyarakat sekolah.
3.
pengaruh sekolah pada perilaku
anggotanya, yang mempelajari:
§
Peranan sosial guru
§
Sifat kepribadian guru.
§
Pengaruh kepribadian guru
terhadap tingkah laku siswa.
§
Fungsi sekolah dalam
sosialisasi anak-anak.
4.
Sekolah dalam komunitas, yang
mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain didalam
komunitasnya, yang meliputi:
§
Pelukisan tentang komunitas
seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
§
Analisis tentang proses
pendidikan sperti tampak terjadi pada sisitem sosial komunitas kaum tidak
terpelajar.
§
Hubungan antara sekolah dan
komunitas dalam fungsi kependidikannya.
§
Faktor-faktor demografi dan
ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
Keempat bidang yang dipelajari tersebut
sangat esensial sebagai sarana untuk memahami sistem pendidikan dalam kaitannya
dengan keseluruhan hidup masyarakat (Wayan Ardhana, 1986:Modul 1/67).
Kajian sosiologi mencakup semua jalur
pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Apabila
ditinjau dari sosiologi maka pendidikan keluarga adalah sangat penting, karena
keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama bagi setiap manusia. Dalam UU RI
No. 2 Tahun 1989 Pasal 10 Ayat 4 dinyatakan bahwa “ Pendidikankeluarga merupakan
bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga
dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan
keterampilan”.
Pada beberapa kelompok sebaya, bahkan
tidak jelas siapa sebenarnya yang menjadi anggota dan siapa yang bukan anggota.
Anak-anak selalu pindah dari suatu kelompok ke kelompok sebaya lainnya sejalan
dengan bertambahnya usia anak yang bersangkutan. Sebagai lembaga sosial,
kelompok sebaya tidak mempunyai struktur yang jelas dan tidak mempunyai tujuan
yang permanen. Tetapi kelompok sebaya dapat menciptakan solidaritas yang sangat
kuat diantara anggota kelompoknya. Disamping itu, kelompok sebaya memberikan
jalan pada anak untuk lebih independent dan menumbuhkan sikap kerja sama dan
membuka horizon anak lebih luas.
C.
Landasan Psikologis
Pada
umumnya landasan psikologis dari pendidikan tersebut terutama tertuju pada
pemahaman manusia, khususnya tentang proses perkembangan dan proses belajar.
Terdapat beberapa pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi
psikologis dalam kaitannya dengan pendidikan, yakni strategi disposisional,
strategi behavioral, dan strategi humanistik. Akan tetapi keduanya mempunyai
pandangan yang berbeda tentang belajar itu terjadi. Perbedaan itu terjadi
karena adanya “ two models of man” (istilah dari William D. Hitt, 1969) yang
menyebabkan terjadinya “Lockean and Leibnitzian tradition” (istilah dari G.W.
Allport). Bagi tradisi ala J. Locke (Lockean Tradition) pengetahuan berasal
dari stimulasi eksternal sehingga manusia adalah penerima dan pelanjut
informasi (a receiver and transmitter of information); sedang tradisi ala
G. Leibnitz (Leibnitzian Tradition)
berpendapat bahwa pengetahuan dihasilkan dari dalam, manusia sebagai pembangkit
atau generator informasi (is derived from within, man is generator of
information).
Perbedaan pandangan tentang hakikat
manusia ditinjau dari segi psikoedukatif tersebut antara lain tampak dalam
perbedaan pandangan tentang teori-teori belajar, faktor-faktor penentu
perkembangan manusia, dan sebagainya.
Pengertian tentang Landasan
Psikologis
Manusia dilahirkan dengan sejumlah
kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya
memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya.
Interaksi dengan lingkungannya itu akan menyebabkan manusia mengembangkan
kemampuannya melalui proses belajar. Semakin kuat motif sebagai upaya pemenuhan
kebutuhan itu, semakin kuat pula proses belajar yang terjadi, dan pada
gilirannya, akan semakin tinggi hasil belajar yang dapat dicapainya.
A.
Maslow mengemukakan kategorisasi
kebutuhan-kebutuhan menjadi enam kelompok, mulai dari yang paling sederhana dan
mendasar meliputi:
§
Kebuuhan fisiologis:
Kebutuhan untuk mempertahankan hidup (makan, tidur, istirahat, dan sebagainya).
§
Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan untuk secara terus-menerus merasa aman dan bebas dari ketakutan.
§
Kebutuhan akan cinta dan
pengakuan: Kebutuhan berkaitan dengan kasih saying dan cinta dalam kelompok dan
dilindungi oleh orang lain.
§
Kebutuhan harga diri
(esteem needs): Kebutuhan berkaitan dengan perolehan oleh orang lain sebagai
orang yang berkehendak baik.
§
Kebutuhan untuk aktualisasi
diri: Kebutuhan untuk dapat melakukan sesuatu dan mewujudkan portensi-potensi
yang dimiliki (menyatakan pendapat, perasaan, dan sebagainya).
§
Kebutuhan untuk mengetahui
dan memahami: Kebutuhan yang berkaitan dengan penguasaan iptek.
Menurut Maslow kebutuhan yang paling utama
adalah kebutuhan fisiologis, dan individu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
ini sebelum mengejar kebutuhan akan rasa aman. Demikian juga untuk
kebutuhan-kebutuhan berikutnya. Kebutuhan yang lebih rendah merupakan prasyarat
bagi pemuasan kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi. Dengan demikian, karena
belajar pada dasarnya merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan tingkat tinggi,
maka pemenuhannya sangat ditentukan oleh diri pelajar dan mempersyaratkan
adanya rasa aman dan seterusnya yang lebih rendah.
Kajian
psikologis yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan
kecerdasan, berpikir, dan belajar. Kecerdasan umum (intelegensi) ataupun
kecerdasan dalam bidang tertentu (bakat). Kecerdasan aktual terbentuk karena
adanya pengalaman. Pembentukan kecerdasan dapat dilakukan dengan menciptakan
kondisi lingkungan, kesempatan, dan iklim emosi yang memungkinkan individu
untuk memperoleh pengalaman tertentu. Dengan demikian semakin baik
kondisi-kondisi yang dimiliki individu, akan semakin meningkat kecerdasan
individu untuk memperoleh pengalaman tertentu tersebut. Pengembangan kecerdasan
itu akan terwujud dalam berbagai bentuk kemampuan berpikir, baik berpikir
konvergen dan divergen, maupun berpikir intuitif dan reflektif. Berpikir konvergen
(memusat) terutama bersifat logis-konvensional, sedangkan berpikir divergen
(memencar) terutama bersifat inovatif-kreatif. Berpikir reflektif dapat dipakai
untuk memecahkan masalah.
Dewey (1910, dari Wayan Ardhana 1986:
Modul 1/47) mengajukan lima
langkah pokok untuk memecahkan masalah:
§
Menyadari dan merumuskan
suatu kesulitan.
§
Mengumpulkan informasi yang
relevan.
§
Merakit dan mengklasifikasi
data serta merumuskan hipotesis-hipotesis.
§
Menerima atau menolak
hipotesis tentatif.
§
Merumuskan kesimpulan dan
mengadakan evaluasi.
James Conant (1951, dari Wayan Ardhana
1986: Modul 1/47) mengajukan 6 langkah dalam pemecahan masalah:
§
Menyadari dan merumuskan
sesuatu.
§
Mengumpulkan informasi yang
relevan.
§
Merumuskan hipotesis.
§
Mengadakan proses deduksi
dari hipotesis.
§
Menguji hipotesis dalam
situasi actual.
§
Menerima, mengubah atau
menolak hipotesis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar