Kamis, 26 April 2012

Dasar-Dasar Pendidikan Islam


LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN
          Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematik-sistematik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu.
            Beberapa diantara landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, dan landasan politik yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan.

  1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philoshopi) bersumber dari bahasa Yunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana. Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti : Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya. Filsafat menelaah sesuatu menjadi radikal, menyeluruh, dan konseptual yang menghasilkan konsesi-konsepsi mengenai kehidupan dan dunia. Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor, yaitu :
  1. Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan
  2. Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran. Filsafat berada diantara keduanya : kawasannya seluas dengan religi, namun lebih dekat dengan ilmu pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dank arena mengandalkan akal manusia (Redja Mudyahardjo, et.al.,1992: 126-134).
Istilah filsafat dalam dua pendekatan yakni :
  1. filsafat sebagai satu kelanjutan dari berpikir ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna kepada ilmu pengetahuannya itu.
  2. Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika, epistemologi (tentang benar dan salah , etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan jelek), metafisika (tentang hakikat yang “ada “, termasuk akal itu sendiri), serta social dan politik (filsafat pemerintahan).

      B. Landasan sosiologis
      Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, yakni hewan. Hidup berkelompok memiliki ciri-ciri (Wayan Ardhana, 1968: Modul 1/62) sebagai berikut:
a)      Ada pembagian kerja yang tetap pada anggotanya.
b)      Ada ketergantungan antara anggota.
c)      Ada kerjasama antar anggota.
d)     Ada komunikasi antara anggota, dan
e)      Ada diskriminasi antarindividu yang hidup dalam suatu kelompok dengan individu yang hidup dalam kelompok lain.
      Ciri- ciri hewan tersebut dapat pula di temukan pada manusia. Kehidupan social manusia tersebut dipelajari oleh filsafat, yang berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Sosiologi sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat.

Pengertian tentang landasan Sosiologis
            Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
1.      Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
§  Fungsi pendidikan dalam kebudayaan.
§  Hubungan sistem pendidikan dan proses control sosial dan sistem kekuasaan.
§  Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan.
§  Hubungan pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status.
§  Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2.      Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi:
§  Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah.
§  Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah.
3.      pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
§  Peranan sosial guru
§  Sifat kepribadian guru.
§  Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
§  Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak.
4.      Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain didalam komunitasnya, yang meliputi:
§  Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
§  Analisis tentang proses pendidikan sperti tampak terjadi pada sisitem sosial komunitas kaum tidak terpelajar.
§  Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya.
§  Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
      Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagai sarana untuk memahami sistem pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat (Wayan Ardhana, 1986:Modul 1/67).
      Kajian sosiologi mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Apabila ditinjau dari sosiologi maka pendidikan keluarga adalah sangat penting, karena keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama bagi setiap manusia. Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 10 Ayat 4 dinyatakan bahwa “ Pendidikankeluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”.
      Pada beberapa kelompok sebaya, bahkan tidak jelas siapa sebenarnya yang menjadi anggota dan siapa yang bukan anggota. Anak-anak selalu pindah dari suatu kelompok ke kelompok sebaya lainnya sejalan dengan bertambahnya usia anak yang bersangkutan. Sebagai lembaga sosial, kelompok sebaya tidak mempunyai struktur yang jelas dan tidak mempunyai tujuan yang permanen. Tetapi kelompok sebaya dapat menciptakan solidaritas yang sangat kuat diantara anggota kelompoknya. Disamping itu, kelompok sebaya memberikan jalan pada anak untuk lebih independent dan menumbuhkan sikap kerja sama dan membuka horizon anak lebih luas. 

C. Landasan Psikologis
      Pada umumnya landasan psikologis dari pendidikan tersebut terutama tertuju pada pemahaman manusia, khususnya tentang proses perkembangan dan proses belajar. Terdapat beberapa pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikologis dalam kaitannya dengan pendidikan, yakni strategi disposisional, strategi behavioral, dan strategi humanistik. Akan tetapi keduanya mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar itu terjadi. Perbedaan itu terjadi karena adanya “ two models of man” (istilah dari William D. Hitt, 1969) yang menyebabkan terjadinya “Lockean and Leibnitzian tradition” (istilah dari G.W. Allport). Bagi tradisi ala J. Locke (Lockean Tradition) pengetahuan berasal dari stimulasi eksternal sehingga manusia adalah penerima dan pelanjut informasi (a receiver and transmitter of information); sedang tradisi ala G.  Leibnitz (Leibnitzian Tradition) berpendapat bahwa pengetahuan dihasilkan dari dalam, manusia sebagai pembangkit atau generator informasi (is derived from within, man is generator of information).
      Perbedaan pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikoedukatif tersebut antara lain tampak dalam perbedaan pandangan tentang teori-teori belajar, faktor-faktor penentu perkembangan manusia, dan sebagainya.

Pengertian tentang Landasan Psikologis
      Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya itu akan menyebabkan manusia mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar. Semakin kuat motif sebagai upaya pemenuhan kebutuhan itu, semakin kuat pula proses belajar yang terjadi, dan pada gilirannya, akan semakin tinggi hasil belajar yang dapat dicapainya.
A.    Maslow mengemukakan kategorisasi kebutuhan-kebutuhan menjadi enam kelompok, mulai dari yang paling sederhana dan mendasar meliputi:
§  Kebuuhan fisiologis: Kebutuhan untuk mempertahankan hidup (makan, tidur, istirahat, dan sebagainya).
§  Kebutuhan rasa aman Kebutuhan untuk secara terus-menerus merasa aman dan bebas dari ketakutan.
§  Kebutuhan akan cinta dan pengakuan: Kebutuhan berkaitan dengan kasih saying dan cinta dalam kelompok dan dilindungi oleh orang lain.
§  Kebutuhan harga diri (esteem needs): Kebutuhan berkaitan dengan perolehan oleh orang lain sebagai orang yang berkehendak baik.
§  Kebutuhan untuk aktualisasi diri: Kebutuhan untuk dapat melakukan sesuatu dan mewujudkan portensi-potensi yang dimiliki (menyatakan pendapat, perasaan, dan sebagainya).
§  Kebutuhan untuk mengetahui dan memahami: Kebutuhan yang berkaitan dengan penguasaan iptek.
      Menurut Maslow kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan fisiologis, dan individu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ini sebelum mengejar kebutuhan akan rasa aman. Demikian juga untuk kebutuhan-kebutuhan berikutnya. Kebutuhan yang lebih rendah merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi. Dengan demikian, karena belajar pada dasarnya merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan tingkat tinggi, maka pemenuhannya sangat ditentukan oleh diri pelajar dan mempersyaratkan adanya rasa aman dan seterusnya yang lebih rendah.
Kajian psikologis yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar. Kecerdasan umum (intelegensi) ataupun kecerdasan dalam bidang tertentu (bakat). Kecerdasan aktual terbentuk karena adanya pengalaman. Pembentukan kecerdasan dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi lingkungan, kesempatan, dan iklim emosi yang memungkinkan individu untuk memperoleh pengalaman tertentu. Dengan demikian semakin baik kondisi-kondisi yang dimiliki individu, akan semakin meningkat kecerdasan individu untuk memperoleh pengalaman tertentu tersebut. Pengembangan kecerdasan itu akan terwujud dalam berbagai bentuk kemampuan berpikir, baik berpikir konvergen dan divergen, maupun berpikir intuitif dan reflektif. Berpikir konvergen (memusat) terutama bersifat logis-konvensional, sedangkan berpikir divergen (memencar) terutama bersifat inovatif-kreatif. Berpikir reflektif dapat dipakai untuk memecahkan masalah.
      Dewey (1910, dari Wayan Ardhana 1986: Modul 1/47) mengajukan lima langkah pokok untuk memecahkan masalah:
§  Menyadari dan merumuskan suatu kesulitan.
§  Mengumpulkan informasi yang relevan.
§  Merakit dan mengklasifikasi data serta merumuskan hipotesis-hipotesis.
§  Menerima atau menolak hipotesis tentatif.
§  Merumuskan kesimpulan dan mengadakan evaluasi.
      James Conant (1951, dari Wayan Ardhana 1986: Modul 1/47) mengajukan 6 langkah dalam pemecahan masalah:
§  Menyadari dan merumuskan sesuatu.
§  Mengumpulkan informasi yang relevan.
§  Merumuskan hipotesis.
§  Mengadakan proses deduksi dari hipotesis.
§  Menguji hipotesis dalam situasi actual.
§  Menerima, mengubah atau menolak hipotesis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar